1.
LATAR BELAKANG

LATAR BELAKANG
Definisi
Ilmu Ukur Tanah
Ilmu ukur tanah adalah bagian dari
ilmu geodesi yang mempelajari cara-cara pengukuran di permukaan bumi untuk
menentukan posisi relative atau absolute titik-titik pada permukaan tanah dalam
memenuhi kebutuhan seperti pemetaan dan penentuan posisi relative suatu daerah.
Ilmu ukur tanah adalah bagian rendah
dari ilmu geodesi,yang merupakan suatu ilmu yang mempelajari ukuran dan bentuk
bumi dan menyajikannya dalam bentuk tertentu.
Ilmu
geodesi ini berguna bagi pekerjaan perencanaan yang membutuhkan data-data
koordinat dan ketinggian titik lapangan.
Berdasarkan ketelitian
pengukurannya,ilmu geodesi terbagi atas dua macam,yaitu :
a. Geodetic
Surveying,yaitu suatu survey yang memperhitungkan kelengkungan bumi atau kondisi
sebenarnya.Geodetic surveying ini digunakan dalam pengukuran daerah yang luas
dengan menggunakan bidang hitung yaitu bidang lengkung(bola/ellipsoid).
b. Plane
Surveying, yaitu suatu survey yang mengabaikan kelengkungan bumi dan
mengasumsikan bumi adalah bidang datar.Plane surveying ini digunakan untuk
pengukuran daerah yang tidak luas dengan menggunakan bidang hitung yaitu bidang
datar.
2. TUJUAN
a. Mahasiswa
diharapkan dapat membaca bacaan benang pada bak ukur
b. Mahasiswa
dapat mengatasi problem di lapangan yang dijumpai waktu pengukuran.
c. Mahasiswa
diharapkan dapat menghitung jarak dan beda tinggi serta ketinggian titik
pengukuran.
d. Mahasiswa
dapat melaksanakan pengukuran travesing.
e. Mahasiswa
dapat melaksanakan pengukuran profil memanjang dan melintang.
f.
Mahasiswa diharapkan dapat
menggambarkan hasil pengukuran dengan skala tertentu.
3. PERALATAN
dan BAHAN
3.1
Alat
Adapun peralatan yang digunakan meliputi :
No
|
Alat
|
Gambar
|
Ket
& Spesifikasi
|
1
|
Waterpass
(1
buah)
|
Untuk
mengukur perbedaan ketinggian dari satu titik acuan ke acuan berikutnya.
|
|
2
|
Roll
Meter
(1
buah)
|
Untuk
mengukur jarak jarak di lapangan dan untuk mengukur tinggi alat.
|
|
3
|
Rambu
Ukur
(1
buah)
|
Untuk
membuat alat waterpassdalam memperjelas sasaran yang akan dioptik.
|
|
4
|
Payung
(1
buah)
|
Untuk
melindungi alat waterpass dari pengaruh cuaca.
|
|
5
|
Statif
(1
buah)
|
untuk menstabilkan alat yang dipasang, dengan pengaturan
yang tepat akan diperoleh statif yang stabil.
|
|
6
|
Unting-unting
(1
buah)
|
Untuk
menyetel dasar sumbu pertama terhadap titik tempat berdirinya alat.
|
|
7
|
Pen
ukur
(1
buah)
|
Sebagai
Tanda dilapagan
|
3.2 Bahan
·
Alat tulis,
·
Tabel pengukuran,
·
Pilok (1 buah).
4. DASAR
TEORI
Penyipat datar profil (profil
levaling) adalah penyipat datar berantai dengan sejumlah pembacaan ke muka
diantara titik-titik pindah. Jadi di sini ada stasiun-stasiun tambahan yaitu
titik antara, dan stasiun-stasiun pokok yaitu titik utama dan dan titik pindah.
Pengukuran profil ini dibedakan
menjadi dua yaitu pengukuran profil memanjang dan pengukuran profil melintang.
Profil memanjang diperlukan dalam pembuatan trase jalan raya, jalan kereta api,
saluran air dan lain-lain. Untuk menghitung berapa luas tanah yang harus digali
maupun berapa luas daerah yang harus ditimbun, maka diperlukan data yang
lengkap dari hasil pengukuran profil memanjang maupun pengukuran profil
melintang. Data tersebut dituangkan dalam suatu grafik dengan garis mendatar
menyatakan jarak antar titik dan garis tegak menyatakan elevasinya.
4.1Profil Memanjang
Gambar
4.1.1 Profil Memanjang
Sekilas bila
dilihat cara pengukuran profil memanjang hampir sama dengan pengukuran sipat
datar memanjang akan tetapi terdapat perbedaan dari maksud dan pola dilapangan.
Dengan cara TGB khususnya cara kedua pada prinsip pengukuran beda
tinggi antara kedua titik, alat berada diluar jalur sumbu proyek maka
hal yang harus diperhatikan pada saat pengukuran adalah:
a.
Harus memiliki titik ikat atau BM
dilapangan, dengan interval jarak antar titik yang umumnya dijumpai adalah 10,
15, 25, 50, 100 meter.
b.
Harus tersedia tabel pengukuran dan
sketsa pengukuran.
c.
Dalam pengukuran cara TGB terdapat
bacaan belakang, bacaan tengah dan bacaan muka, mengingat alat berada diluar
garis sumbu proyek sehingga pada posisi satu kali alat berdiri banyak titik
yang dapat diukur.
d.
Rambu ditempatkan diatas patok
sedangkan tinggi masing-masing patok harus diukur dari permukaan tanah.
Rumus-rumus
untuk perhitungan adalah :
·
Koreksi BT=
, untuk setiap pengukuran.
·
Beda tinggi/ ∆H = BTblk
– BTmk, pergi dan pulang setiap kali
contoh :
Pergi P1 –
P2 = BT.D ( P1 ) – BT.D ( P2 )
Pulang P2 –
P1 = BT.B ( P2 ) – BT.B ( P1 )
Hasil pergi dan
pulang hanya boleh berbeda dalam millimeter kemudian di ambil
rata-ratanya.
4.2 Profil
Melintang
Gambar 4.2.1 Profil Melintang
Arah profil melintang di setiap stasiun umumnya
diambil tegak lurus terhadap sumbu proyek, sebagai dasar ketinggian di setiap
profil adalah titik-titik stasiun yang telah diukur dari profil memanjang.
Lebar profil tergantung dari kebutuhan dan tujuan proyek, namun pada umumnya
batas lebar profil melintang ke kiri dan kanan dari garis sumbu proyek
adalah 50 m– 100 m. (Basuki, S. 2006)
Pada daerah yang relatif datar, satu profil
melintang mungkin dengan satu kali kedudukan alat. Namun pada daerah yang mempunyai
topografi curam atau bergelombang tidak cukup dengan sekali berdiri alat,
mungkin dua kali atau lebih.
Di atas gambar profil inilah digambarkan tampang
atau irisan dari rencana proyek dan luasan yang terjadi antara permukaan tanah
asli dengan tampang proyek merupakan luas tampang galian atau timbunan yang
diperlukan atau dibuang. Dengan mengkombinasikan antara tampang memanjang dan
melintang maka volume dari tubuh tanah yang ditimbun atau digali dapat
dihitung.
Adapun cara pengukuran profil melintang dapat
dilakukan dengan cara yang sama dengan profil memanjang, akan tetapi jarak
antara titik-titik detail dilapangan lebih pendek dan disesuaikan dengan maksud
pengukuran tersebut.
Cara lainnya adalah dengan alat berada di atas titik
perpotongan sumbu proyek. Perbedaan dengan cara profil memanjang adalah tiap
alat berdiri pada suatu patok harus diukur ketinggiannya dari atas patok
dan ketinggian patok diukur dari permukaan tanah. Keuntungan cara ini yaitu;
a.
Irisan tanah akan tergambar dengan
jelas.
b.
Tegak lurus garis sumbu proyek
sehingga dapat digambar secara planimetris
Adapun rumus
perhitungannya yaitu ;
·
beda tinggi/∆H = tp – BT (target)
·
tinggi muka tanah = Elevasi
sebelumnya + ∆H(target).
5. LANGKAH
KERJA
Pengukuran
Profil
a. Tentukan
titik-titik travers yang akan dibuat.
b. Pengukuran
Jarak Optis
·
Tempatkan dan stel
pesawat kira-kira ditengah-tengah antara titik A dan B (slag 1).
Penempatan pesawat harus satu garis
dengan A dan B.
·
Tempatkan baak ukur
diatas patok. Titik A sebagai baak belakang dan titik B sebagai baak muka.
·
Bidik teropong ke baak
belakang(A) kemudian baca dan catat BA,BT,dan BB pada tabel pengukuran.
·
Turunkan baak kemuka
tanah pada titik A tersebut dan lakukan seperti pada langkah diatas.
·
Putar teropong dan bidik
baak muka serta lakukan pembacaan seperti pada langka diatas pula.
·
Pesawat dipindahkan ke
slag II (antara B dan C). Dengan langkah yang sama dengan langkah-langkah
diatas serta lakukan pembacaan BA,BT,dan BB.
·
Begitu seterusnya sampai dengan slag terakhir.
·
Jarak A,B adalah jarak
pesawat ke baak belakang + jarak pesawat ke baak muka.Demikian juga pada slag-slag berikutnya.
Pengukuran
Melintang :
a. Tentukan
posisi dari profil tersebut terhadap travers yang telah ditentukan dengan cara
sebagai berikut.
·
Tempatkan dan stel
pesawat pada titik travers yang akan diukur profilnya sedemikian rupa sehingga
sumbu I tepat diatas titik tersebut.misal titik 1.
·
Bidik teropong ke titik
ikat,kemudian putar alhidade horizontal sehingga index lingkaran tepat pada
angka nol dari skala lingkaran.
·
Putar teropong ke kiri
atau kekanan,tergantung dari posisi profil yang diinginkan,maka buat sudut
terhadap I-titik ikat misal 90⁰.
Kemudian pasang patok
pembantu pada ujung profil tersebut misal titik a.
·
Putar teropong 180⁰ untuk menentukan
ujung lain dari profil tersebut misal titik a’.
b. Dalam
hal penentuan posisi dari profil,selain dilakukan seperti langkah a,yang bisa
dibaca dan dicatat dengan jarak optis dan beda tinggi.
Penentuan posisi dari
profil ini dapat juga ditentukan dengan perkiraan,tergantung kebutuhan.
c. Tempatkan
dan stel pesawat pada suatu titik diluar garis profil,sedemikian rupa sehingga
dari titik tersebut dapat membidik sepanjang profil yang akan diukur.
d. Pasang
bak ukur A bidikkan teropong pada baak ukur tersebut dan lakukan pembacaan
BA,BT,dan BB dan catat hasilnya pada tabel pengukuran.
e. Pasang
bak ukur pada titik a dan lakukan seperti langkah di d.
f.
Lakukan pembacaan pada
setiap perubahan kemiringan tanah sepanjang garis profil tersebut,misal titik
b,c,d... dan seterusnya sampai ke ujung profil yang telah ditentukan.
g. Ukur
jarak ab,bc,cd... dan seterusnya dengan pita ukur atau rantai ukur.
h. Pengukuran
dilanjutkan pada profil berikutnya(2,3,4,dan 5).
i.
Hitung dan gambar hasil
pengukuran tersebut.
6. DATA
dan SKETSA LOKASI
6.1
Data
Tabel 6.1.1 Profil Melintang
TP
|
POSISI ALAT
|
TARGET
|
BT RAMBU
|
JARAK DENGAN PITA UKUR
|
1.36
|
E
|
1
|
1.330
|
E-I=3
|
2
|
1.370
|
E-2=6
|
||
3
|
1.633
|
E-3=7,10
|
||
4
|
2.673
|
E-4=7,24
|
||
5
|
2.643
|
E-5=7,87
|
||
6
|
1.589
|
E-6=8
|
||
7
|
1.557
|
E-7=9
|
||
8
|
1.414
|
E-8=1,23
|
||
9
|
2.335
|
E-9=1,42
|
||
10
|
2.324
|
E-10=1,63
|
||
11
|
1.499
|
E-11=2,45
|
||
1.40
|
D
|
1
|
1.310
|
D-1=3
|
2
|
1.354
|
D-2=6
|
||
3
|
1.555
|
D-3=7.15
|
||
4
|
2.051
|
D-4=7.40
|
||
5
|
2.199
|
D-5=7.70
|
||
6
|
1.803
|
D-6=7.88
|
||
7
|
1.589
|
D-7=1.30
|
||
8
|
2.009
|
D-8=1.40
|
||
9
|
1.975
|
D-9=1.83
|
||
10
|
1.518
|
D-10=1.91
|
||
11
|
1.678
|
D-11=2.41
|
||
1,35
|
C
|
1
|
1.226
|
C-1=3
|
2
|
1.327
|
C-2=6
|
||
3
|
1.519
|
C-3=7.27
|
||
4
|
1.922
|
C-4=7.37
|
||
5
|
1.932
|
C-5=7.94
|
||
6
|
1.810
|
C-6=8.08
|
||
7
|
1.654
|
C-7=8.57
|
||
8
|
1.469
|
C-8=0.80
|
||
1.37
|
B
|
1
|
1.338
|
B-1=3
|
2
|
1.388
|
B-2=6
|
||
3
|
1.735
|
B-3=7.10
|
||
4
|
2.163
|
B-4=7.20
|
||
5
|
2.146
|
B-5=7.60
|
||
6
|
1.757
|
B-6=7.70
|
||
7
|
1.574
|
B-7=9.86
|
||
8
|
1.675
|
B-8=1.28
|
||
9
|
2.218
|
B-9=1.55
|
||
10
|
2.222
|
B-10=1.86
|
||
11
|
2.788
|
B-11=2.06
|
||
1,42
|
A
|
1
|
1.378
|
A-1=3
|
2
|
1378
|
A-2=6
|
||
3
|
1401
|
A-3=5.70
|
||
4
|
1412
|
A-4=7.30
|
||
5
|
1834
|
A-5=7.70
|
||
6
|
1870
|
A-6=7.90
|
||
7
|
1651
|
A-7=9.70
|
||
8
|
1520
|
A-8=1.26
|
||
9
|
1830
|
A-9=1.36
|
||
10
|
2160
|
A-10=1.73
|
||
11
|
2191
|
A-11=1.89
|
||
12
|
1829
|
A-12=3.37
|
Tabel 6.1.2 Profil
Memanjang
TP
|
POSISI ALAT
|
TARGET
|
BACAAN RAMBU
|
JARAK DENGAN PITA UKUR
|
|||||
BELAKANG
|
MUKA
|
||||||||
BA
|
BT
|
BB
|
BA
|
BT
|
BB
|
||||
1.32
|
1
|
TI-A
|
1.799
|
1.780
|
1.710
|
3,89
|
|||
1.298
|
1.273
|
1.249
|
4,9
|
||||||
1.32
|
2
|
A-B
|
1.565
|
1.440
|
1.314
|
25
|
|||
1.384
|
1.257
|
1.134
|
25
|
||||||
1.32
|
3
|
B-C
|
1.320
|
1.195
|
1.070
|
25
|
|||
1.645
|
1.521
|
1.396
|
25
|
||||||
1.35
|
4
|
C-D
|
1.545
|
1.420
|
1.295
|
25
|
|||
1.537
|
1.413
|
1.287
|
25
|
||||||
1.35
|
5
|
D-E
|
1.434
|
1.310
|
1.186
|
25
|
|||
1.335
|
1,21
|
1.085
|
25
|
||||||
6.2 Sketsa Lokasi
7. PENGOLAHAN
DATA dan ANALISA
7.1 Pengolahan Data
Tabel 7.1.1. Profil Melintang
Elevasi = +100
TP
|
POSISI ALAT
|
TARGET
|
BT RAMBU
|
JARAK DENGAN PITA UKUR
|
BEDA TINGGI
|
TINGGI MUKA TANAH
|
|
NAIK (+)
|
TURUN(-)
|
||||||
1.36
|
E
|
1
|
1.330
|
E-I=3
|
0.03
|
100.301
|
|
2
|
1.370
|
E-2=6
|
-0.01
|
100.291
|
|||
3
|
1.633
|
E-3=7,10
|
-0.273
|
100.018
|
|||
4
|
2.673
|
E-4=7,24
|
-1,313
|
98.705
|
|||
5
|
2.643
|
E-5=7,87
|
-1.283
|
97.422
|
|||
6
|
1.589
|
E-6=8
|
-0.229
|
97.193
|
|||
7
|
1.557
|
E-7=9
|
-0.197
|
96.996
|
|||
8
|
1.414
|
E-8=1,23
|
-0.054
|
96.942
|
|||
9
|
2.335
|
E-9=1,42
|
-0.975
|
95.967
|
|||
10
|
2.324
|
E-10=1,63
|
-0.964
|
95.003
|
|||
11
|
1.499
|
E-11=2,45
|
-0.139
|
94.864
|
|||
1.40
|
D
|
1
|
1.310
|
D-1=3
|
0.09
|
100.461
|
|
2
|
1.354
|
D-2=6
|
0.046
|
100.507
|
|||
3
|
1.555
|
D-3=7.15
|
-0.155
|
100.352
|
|||
4
|
2.051
|
D-4=7.40
|
-0.651
|
99.701
|
|||
5
|
2.199
|
D-5=7.70
|
-0.799
|
98.902
|
|||
6
|
1.803
|
D-6=7.88
|
-0.403
|
98.499
|
|||
7
|
1.589
|
D-7=1.30
|
-0.189
|
98.310
|
|||
8
|
2.009
|
D-8=1.40
|
-0.609
|
97.701
|
|||
9
|
1.975
|
D-9=1.83
|
-0.575
|
97.126
|
|||
10
|
1.518
|
D-10=1.91
|
-0.118
|
97.008
|
|||
11
|
1.678
|
D-11=2.41
|
-0.278
|
96.730
|
|||
1.35
|
C
|
1
|
1.226
|
C-1=3
|
0.124
|
100.488
|
|
2
|
1.327
|
C-2=6
|
0.023
|
100.511
|
|||
3
|
1.519
|
C-3=7.27
|
-0.169
|
100.342
|
|||
4
|
1.922
|
C-4=7.37
|
-0.572
|
99.770
|
|||
5
|
1.932
|
C-5=7.94
|
-0.582
|
99.188
|
|||
6
|
1.810
|
C-6=8.08
|
-0.46
|
98.728
|
|||
7
|
1.654
|
C-7=8.57
|
-0.304
|
98.424
|
|||
8
|
1.469
|
C-8=0.80
|
-0.119
|
98.305
|
|||
1.37
|
B
|
1
|
1.338
|
B-1=3
|
0.032
|
100.722
|
|
2
|
1.388
|
B-2=6
|
-0.018
|
100.704
|
|||
3
|
1.735
|
B-3=7.10
|
-0.365
|
100.339
|
|||
4
|
2.163
|
B-4=7.20
|
-0.793
|
99.546
|
|||
5
|
2.146
|
B-5=7.60
|
-0.776
|
98.770
|
|||
6
|
1.757
|
B-6=7.70
|
-0.387
|
98.383
|
|||
7
|
1.574
|
B-7=9.86
|
-0.204
|
98.179
|
|||
8
|
1.675
|
B-8=1.28
|
-0.305
|
97.874
|
|||
9
|
2.218
|
B-9=1.55
|
-0.848
|
97.026
|
|||
10
|
2.222
|
B-10=1.86
|
-0.852
|
96.174
|
|||
11
|
2.788
|
B-11=2.06
|
-1.418
|
94.756
|
|||
1.42
|
A
|
1
|
1.378
|
A-1=3
|
0.042
|
100.549
|
|
2
|
1378
|
A-2=6
|
0.019
|
100.568
|
|||
3
|
1401
|
A-3=5.70
|
-0.008
|
100.560
|
|||
4
|
1412
|
A-4=7.30
|
-0.414
|
100.146
|
|||
5
|
1834
|
A-5=7.70
|
-0.45
|
99.696
|
|||
6
|
1870
|
A-6=7.90
|
-0.231
|
99.465
|
|||
7
|
1651
|
A-7=9.70
|
-0.1
|
99.365
|
|||
8
|
1520
|
A-8=1.26
|
-0.41
|
98.955
|
|||
9
|
1830
|
A-9=1.36
|
-0.74
|
98.215
|
|||
10
|
2160
|
A-10=1.73
|
-0.771
|
97.444
|
|||
11
|
2191
|
A-11=1.89
|
-0.382
|
97.062
|
|||
12
|
1829
|
A-12=3.37
|
-0.409
|
96.653
|
|||
Tabel 7.1.2 Profil Memanjang
TP
|
POSISI ALAT
|
TARGET
|
BACAAN RAMBU
|
JARAK DENGAN PITA UKUR
|
JARAK OPTIS
|
BEDA TINGGI
|
TMT
|
|||||
BELAKANG
|
MUKA
|
|||||||||||
BA
|
BT
|
BB
|
BA
|
BT
|
BB
|
|||||||
1.32
|
1
|
TI
|
1.799
|
1.780
|
1.710
|
3,89
|
3,89
|
0.507
|
100.00
|
|||
A
|
1.298
|
1.273
|
1.249
|
4,9
|
4,9
|
|||||||
1.32
|
2
|
A
|
1.565
|
1.440
|
1.314
|
25
|
25,1
|
0.183
|
100.507
|
|||
B
|
1.384
|
1.257
|
1.134
|
25
|
25
|
|||||||
1.32
|
3
|
B
|
1.320
|
1.195
|
1.070
|
25
|
25
|
-0.326
|
100.690
|
|||
C
|
1.645
|
1.521
|
1.396
|
25
|
24,9
|
|||||||
1.35
|
4
|
C
|
1.545
|
1.420
|
1.295
|
25
|
25
|
0,007
|
100.364
|
|||
D
|
1.537
|
1.413
|
1.287
|
25
|
25
|
|||||||
1.35
|
5
|
D
|
1.434
|
1.310
|
1.186
|
25
|
24,8
|
0,1
|
100.371
|
|||
E
|
1.335
|
1.21
|
1.085
|
25
|
25
|
100.271
|
||||||
7.2 Analisa
Dari pengukuran yang
telah kami lakukan di lapangan,data yang kami peroleh meliputi ;
Profil
Melintang :
a. Tempat
pesawat di 1
Tp = 1.35 ,
Rumus menghitung :
·
Beda tinggi = Tp –
BT(target)
Beda tinggi 1= 1.36-1.330
= 0.03m
Beda tinggi 2= 1.36-1.370
= -0.01m
Beda tinggi 3=1,36-1.633=
-0.273m
Beda tinggi 4=1.36-2.673=
-1,313m
Beda tinggi 5=1.36-2.643=
-1.283m
Beda tinggi 6=1.36-1.589=
-0.229m
Beda tinggi 7=1.36-1.557=
-0.197m
Beda tinggi 8=1.36-1.414=
-0.054m
Beda tinggi 9=1.36-2.335=
-0,975m
Beda tinggi
10=1.36-2.324= -0.964m
Beda tinggi
11=1.36-1.499= -0.139m
Catatan
: dan seterusnya sampai titik 5/0+00
·
Tinggi muka tanah
(elevasi) = elevasi awal + Beda tinggi(target)
Elevasi 1 =100.271 +0.03=100.301
Elevasi 2 =100.301+(-0.01)=100.291
Elevasi 3 =100.291+(-0.273)=100.018
Elevasi 4 =100.018+(-1.313)=98.705
Elevasi 5 =98.705+(-1.283)=97.422
Elevasi 6 =97.422+(-0.229)=97.193
Elevasi 7 =97.193+(-0.197)=96.996
Elevasi 8 =96.996+(-0.054)=96.942
Elevasi 9 =96.942+(-0.975)=95.967
Elevasi 10 =95.967+(-0.964)=95.003
Elevasi 11 =95.003+(-0.139)=94.864
Catatan
: dan seterusnya sampai titik 5/0+00
Profil Memanjang.
a. Rumus
menghitung :
·
Jarak optis = (BA-BB) x
100
Jarak optis di TI = (1.799-1.710) x
100 = 3.89 m.
Jarak optis di Amk= (1.298-1.249) x
100 = 4.9 m.
Jarak optis di Ablk = (1.565-1.314) x
100 = 25.1 m.
Jarak optis di Bmk = (1.384-1.134) x
100 = 25.00 m.
Jarak optis di Bblk = (1.320-1.070) x
100 = 25.00 m.
Jarak optis di Cmk = (1.645-1.396) x
100 = 24,9 m.
Jarak optis di Cblk = (1.545-1,295) x
100 = 25.00 m.
Jarak optis di Dmk = (1.537-1.287) x
100 = 25.00 m.
Jarak optis di Dblk = (1.434-1.186) x
100 = 24,8 m.
Jarak optis di Emk = (1.335-1.085) x
100 = 25.00 m.
·
Selisih antara jarak pita
ukur-jarak optis = jarak pita ukur-jarak optis
Pada titik di TI = 3.89 -3.89 = 0 m.
Pada titik di Amk = 4,9-4,9 = 0 m
Pada titik di Ablk = 25-25.1 = 0,1 m
Pada titik di Bmk = 25-25 = 0
Pada titik di Bblk = 25-25 = 0 m.
Pada titik di Cmk = 25-24,9 = 0,1 m.
Pada titik di Cblk = 25-25 = 0 m.
Pada titik di Dmk = 25-25 = 0 m.
Pada titik di Dblk = 25-24,8=0.2 m
Pada titik di Emk = 25-25 = 0 m.
·
Beda tinggi = BT blk – BT
mk
Beda tinggi 1= 1.780 –
1.273 = 0,507 m
Beda tinggi 2= 1.440 –
1.257 =0,183 m
Beda tinggi 3= 1.195 –
1.521 = - 0.326m
Beda tinggi 4= 1.420 –
1.412 = 0.007m
Beda tinggi 5= 1.310 –
1.21 = 0.1m
·
Tinggi muka tanah
(elevasi) = elevasi 1 + BT blk – BT mk
Elevasi 1 = 100.00 m
Elevasi 2 = 100.00+0.183=100.183m
Elevasi 3 = 100.183 + (-0,316)= 99.857 m
Elevasi 4 =
99.857 + 0.007 = 99.864 m
Elevasi 5 = 99.864 + 0,1 = 99.964 m
8. PENGGAMBARAN
dengan SKALA
9. KESIMPULAN
dan SARAN
9.1 KESIMPULAN
Setelah melakukan pengukuran dilapangan,hal
yang dapat kami simpulkan yaitu ;
·
Pada pengukuran
memanjang,posisi alat terletak antara dua
buah patok yang akan diukur beda tingginya.
·
Kami melakukan pengukuran
profil memanjang sejarak 200 m.
·
Pada pengukuran
melintang,posisi alat terletak tepat diatas patoknya.
·
Pada pengukuran melintang
titik yang akan diukur itu lebih dari satu,misalnya A-E,dst.
·
Di pengukuran melintang
yang kami peroleh hanya benang tengahnya saja karena untuk menentukan beda
tingginya.
·
Dari survey yang telah
kami lakukan dilapangan,pada pengukuran memanjang TMT yang paling tinggi
terdapat pada titik 3 sedangkan yang paling rendah pada titik 2.
·
Dari hasil pengukuran
profil melintang,yang dapat kami simpulkan adalah pada titik center line(CL) itu mempunyai
tinggi muka tanah yang lebih tinggi dibandingkan dengan titik-titik lainnya.
9.2 SARAN
·
Penyetelan alat dilakukan
secepat mungkin agar pengukuran juga akan berlangsung dengan cepat.
·
Pada pengukuran saat
pengukuran melintang jika tepat berada ditengah jalan raya,diusahakan menuggu
sampai kondisi jalan agak sepi,
·
Pekerjaan dilapangan
harus dilakukan dengan baik oleh anggota kelompok agar pekerjaan yang dilakukan
cepat selesai dengan data yang akurat pula.
·
Diusahakan sebelum
memindahkan alat,cek terlebih dahulu apakah semua data sudah tercSatat semua,
agar tidak terjadi pengulangan pengukuran.
No comments:
Post a Comment