Tuesday, 7 February 2017

LAPORAN ILMU UKUR TANAH WATERPASS

1.      

LATAR BELAKANG
Definisi Ilmu Ukur Tanah
Ilmu ukur tanah adalah bagian dari ilmu geodesi yang mempelajari cara-cara pengukuran di permukaan bumi untuk menentukan posisi relative atau absolute titik-titik pada permukaan tanah dalam memenuhi kebutuhan seperti pemetaan dan penentuan posisi relative suatu daerah.
            Ilmu ukur tanah adalah bagian rendah dari ilmu geodesi,yang merupakan suatu ilmu yang mempelajari ukuran dan bentuk bumi dan menyajikannya dalam bentuk tertentu.
Ilmu geodesi ini berguna bagi pekerjaan perencanaan yang membutuhkan data-data koordinat dan ketinggian titik lapangan.
            Berdasarkan ketelitian pengukurannya,ilmu geodesi terbagi atas dua macam,yaitu :
a.       Geodetic Surveying,yaitu suatu survey yang memperhitungkan kelengkungan bumi atau kondisi sebenarnya.Geodetic surveying ini digunakan dalam pengukuran daerah yang luas dengan menggunakan bidang hitung yaitu bidang lengkung(bola/ellipsoid).
b.      Plane Surveying, yaitu suatu survey yang mengabaikan kelengkungan bumi dan mengasumsikan bumi adalah bidang datar.Plane surveying ini digunakan untuk pengukuran daerah yang tidak luas dengan menggunakan bidang hitung yaitu bidang datar.

2.      TUJUAN
a.       Mahasiswa diharapkan dapat membaca bacaan benang pada bak ukur
b.      Mahasiswa dapat mengatasi problem di lapangan yang dijumpai waktu pengukuran.
c.       Mahasiswa diharapkan dapat menghitung jarak dan beda tinggi serta ketinggian titik pengukuran.
d.      Mahasiswa dapat melaksanakan pengukuran travesing.
e.       Mahasiswa dapat melaksanakan pengukuran profil memanjang dan melintang.
f.        Mahasiswa diharapkan dapat menggambarkan hasil pengukuran dengan skala tertentu.
3.      PERALATAN dan BAHAN
3.1 Alat
Adapun peralatan yang digunakan meliputi :

No
Alat
Gambar
Ket & Spesifikasi
1
Waterpass
(1 buah)
Untuk mengukur perbedaan ketinggian dari satu titik acuan ke acuan berikutnya.
2
Roll Meter
(1 buah)

Untuk mengukur jarak jarak di lapangan dan untuk mengukur tinggi alat.
3
Rambu Ukur
(1 buah)
Untuk membuat alat waterpassdalam memperjelas sasaran yang akan dioptik.
4
Payung
(1 buah)
Untuk melindungi alat waterpass dari pengaruh cuaca.
5
Statif
(1 buah)
untuk menstabilkan alat yang dipasang, dengan pengaturan yang tepat akan diperoleh statif yang stabil.

6
Unting-unting
(1 buah)
Untuk menyetel dasar sumbu pertama terhadap titik tempat berdirinya alat.
7
Pen ukur
(1 buah)
Sebagai Tanda dilapagan

3.2 Bahan
·         Alat tulis,
·         Tabel pengukuran,
·         Pilok (1 buah).

4.      DASAR TEORI
Penyipat datar profil (profil levaling) adalah penyipat datar berantai dengan sejumlah pembacaan ke muka diantara titik-titik pindah. Jadi di sini ada stasiun-stasiun tambahan yaitu titik antara, dan stasiun-stasiun pokok yaitu titik utama dan dan titik pindah.
Pengukuran profil ini dibedakan menjadi dua yaitu pengukuran profil memanjang dan pengukuran profil melintang. Profil memanjang diperlukan dalam pembuatan trase jalan raya, jalan kereta api, saluran air dan lain-lain. Untuk menghitung berapa luas tanah yang harus digali maupun berapa luas daerah yang harus ditimbun, maka diperlukan data yang lengkap dari hasil pengukuran profil memanjang maupun pengukuran profil melintang. Data tersebut dituangkan dalam suatu grafik dengan garis mendatar menyatakan jarak antar titik dan garis tegak menyatakan elevasinya.


4.1Profil  Memanjang
                              Gambar 4.1.1 Profil Memanjang
Sekilas bila dilihat cara pengukuran profil memanjang hampir sama dengan pengukuran sipat datar memanjang akan tetapi terdapat perbedaan dari maksud dan pola dilapangan. Dengan cara TGB khususnya cara kedua pada prinsip pengukuran beda tinggi antara kedua titik, alat berada diluar jalur sumbu proyek maka hal yang harus diperhatikan pada saat pengukuran adalah:
a.       Harus memiliki titik ikat atau BM dilapangan, dengan interval jarak antar titik yang umumnya dijumpai adalah 10, 15, 25, 50, 100 meter.
b.      Harus tersedia tabel pengukuran dan sketsa pengukuran.
c.       Dalam pengukuran cara TGB terdapat bacaan belakang, bacaan tengah dan bacaan muka, mengingat alat berada diluar garis sumbu proyek sehingga pada posisi satu kali alat berdiri banyak titik yang dapat diukur.
d.      Rambu ditempatkan diatas patok sedangkan tinggi masing-masing patok harus diukur dari permukaan tanah.

Rumus-rumus untuk perhitungan adalah :
·         Koreksi BT= , untuk setiap pengukuran.
·           Beda tinggi/ ∆H = BTblk – BTmk, pergi dan pulang setiap kali
contoh :
Pergi P1 – P2 = BT.D ( P1 ) – BT.D ( P2 )
Pulang P2 – P1 = BT.B ( P2 ) – BT.B ( P1 )
Hasil pergi dan pulang  hanya boleh berbeda dalam millimeter kemudian di ambil rata-ratanya.

4.2 Profil Melintang
                  Gambar 4.2.1 Profil Melintang
Arah profil melintang di setiap stasiun umumnya diambil tegak lurus terhadap sumbu proyek, sebagai dasar ketinggian di setiap profil adalah titik-titik stasiun yang telah diukur dari profil memanjang. Lebar profil tergantung dari kebutuhan dan tujuan proyek, namun pada umumnya batas lebar profil melintang ke kiri dan kanan dari garis sumbu proyek adalah 50 m– 100 m. (Basuki, S. 2006)
 Pada daerah yang relatif datar, satu profil melintang mungkin dengan satu kali kedudukan alat. Namun pada daerah yang mempunyai topografi curam atau bergelombang tidak cukup dengan sekali berdiri alat, mungkin dua kali atau lebih.
 Di atas gambar profil inilah digambarkan tampang atau irisan dari rencana proyek dan luasan yang terjadi antara permukaan tanah asli dengan tampang proyek merupakan luas tampang galian atau timbunan yang diperlukan atau dibuang. Dengan mengkombinasikan antara tampang memanjang dan melintang maka volume dari tubuh tanah yang ditimbun atau digali dapat dihitung.
Adapun cara pengukuran profil melintang dapat dilakukan dengan cara yang sama dengan profil memanjang, akan tetapi jarak antara titik-titik detail dilapangan lebih pendek dan disesuaikan dengan maksud pengukuran tersebut.
Cara lainnya adalah dengan alat berada di atas titik perpotongan sumbu proyek. Perbedaan dengan cara profil memanjang adalah tiap alat berdiri pada suatu patok harus diukur ketinggiannya dari atas patok dan ketinggian patok diukur dari permukaan tanah. Keuntungan cara ini yaitu;
a.       Irisan tanah akan tergambar dengan jelas.
b.      Tegak lurus garis sumbu proyek sehingga dapat digambar secara planimetris

Adapun rumus perhitungannya yaitu ;
·         beda tinggi/∆H = tp – BT (target)
·         tinggi muka tanah = Elevasi sebelumnya + ∆H(target).

5.      LANGKAH KERJA
Pengukuran Profil
a.       Tentukan titik-titik travers yang akan dibuat.
b.      Pengukuran Jarak Optis
·         Tempatkan dan stel pesawat kira-kira ditengah-tengah antara titik A dan B (slag 1).
Penempatan pesawat harus satu garis dengan A dan B.
·         Tempatkan baak ukur diatas patok. Titik A sebagai baak belakang dan titik B sebagai baak muka.
·         Bidik teropong ke baak belakang(A) kemudian baca dan catat BA,BT,dan BB pada tabel pengukuran.
·         Turunkan baak kemuka tanah pada titik A tersebut dan lakukan seperti pada langkah diatas.
·         Putar teropong dan bidik baak muka serta lakukan pembacaan seperti pada langka diatas pula.
·         Pesawat dipindahkan ke slag II (antara B dan C). Dengan langkah yang sama dengan langkah-langkah diatas serta lakukan pembacaan BA,BT,dan BB.
·          Begitu seterusnya sampai dengan slag terakhir.
·         Jarak A,B adalah jarak pesawat ke baak belakang + jarak pesawat ke baak  muka.Demikian juga pada slag-slag berikutnya.
Pengukuran Melintang :
a.       Tentukan posisi dari profil tersebut terhadap travers yang telah ditentukan dengan cara sebagai berikut.
·         Tempatkan dan stel pesawat pada titik travers yang akan diukur profilnya sedemikian rupa sehingga sumbu I tepat diatas titik tersebut.misal titik 1.
·         Bidik teropong ke titik ikat,kemudian putar alhidade horizontal sehingga index lingkaran tepat pada angka nol dari skala lingkaran.
·         Putar teropong ke kiri atau kekanan,tergantung dari posisi profil yang diinginkan,maka buat sudut terhadap I-titik ikat misal 90.
Kemudian pasang patok pembantu pada ujung profil tersebut misal titik a.
·         Putar teropong 180 untuk menentukan ujung lain dari profil tersebut misal titik a’.
b.      Dalam hal penentuan posisi dari profil,selain dilakukan seperti langkah a,yang bisa dibaca dan dicatat dengan jarak optis dan beda tinggi.
Penentuan posisi dari profil ini dapat juga ditentukan dengan perkiraan,tergantung kebutuhan.
c.       Tempatkan dan stel pesawat pada suatu titik diluar garis profil,sedemikian rupa sehingga dari titik tersebut dapat membidik sepanjang profil yang akan diukur.
d.      Pasang bak ukur A bidikkan teropong pada baak ukur tersebut dan lakukan pembacaan BA,BT,dan BB dan catat hasilnya pada tabel pengukuran.
e.       Pasang bak ukur pada titik a dan lakukan seperti langkah di d.
f.        Lakukan pembacaan pada setiap perubahan kemiringan tanah sepanjang garis profil tersebut,misal titik b,c,d... dan seterusnya sampai ke ujung profil yang telah ditentukan.
g.      Ukur jarak ab,bc,cd... dan seterusnya dengan pita ukur atau rantai ukur.
h.      Pengukuran dilanjutkan pada profil berikutnya(2,3,4,dan 5).
i.        Hitung dan gambar hasil pengukuran tersebut.




6.      DATA dan SKETSA LOKASI
6.1 Data
Tabel 6.1.1 Profil Melintang
TP
POSISI ALAT
TARGET
BT RAMBU
JARAK DENGAN PITA UKUR





1.36
E
1
1.330
E-I=3


2
1.370
E-2=6


3
1.633
E-3=7,10


4
2.673
E-4=7,24


5
2.643
E-5=7,87


6
1.589
E-6=8


7
1.557
E-7=9


8
1.414
E-8=1,23


9
2.335
E-9=1,42


10
2.324
E-10=1,63


11
1.499
E-11=2,45
1.40
D
1
1.310
D-1=3


2
1.354
D-2=6


3
1.555
D-3=7.15


4
2.051
D-4=7.40


5
2.199
D-5=7.70


6
1.803
D-6=7.88


7
1.589
D-7=1.30


8
2.009
D-8=1.40


9
1.975
D-9=1.83


10
1.518
D-10=1.91


11
1.678
D-11=2.41
1,35
C
1
1.226
C-1=3


2
1.327
C-2=6


3
1.519
C-3=7.27


4
1.922
C-4=7.37


5
1.932
C-5=7.94


6
1.810
C-6=8.08


7
1.654
C-7=8.57


8
1.469
C-8=0.80
1.37
B
1
1.338
B-1=3


2
1.388
B-2=6


3
1.735
B-3=7.10


4
2.163
B-4=7.20


5
2.146
B-5=7.60


6
1.757
B-6=7.70


7
1.574
B-7=9.86


8
1.675
B-8=1.28


9
2.218
B-9=1.55


10
2.222
B-10=1.86


11
2.788
B-11=2.06
1,42
A
1
1.378
A-1=3


2
1378
A-2=6


3
1401
A-3=5.70


4
1412
A-4=7.30


5
1834
A-5=7.70


6
1870
A-6=7.90


7
1651
A-7=9.70


8
1520
A-8=1.26


9
1830
A-9=1.36


10
2160
A-10=1.73


11
2191
A-11=1.89


12
1829
A-12=3.37

Tabel 6.1.2 Profil Memanjang
TP
POSISI ALAT
TARGET
BACAAN RAMBU
JARAK DENGAN PITA UKUR
BELAKANG
MUKA
BA
BT
BB
BA
BT
BB
1.32
1
TI-A
1.799
1.780
1.710



3,89






1.298
1.273
1.249
4,9










1.32
2
A-B
1.565
1.440
1.314



25






1.384
1.257
1.134
25










1.32
3
B-C
1.320
1.195
1.070



25






1.645
1.521
1.396
25










1.35
4
C-D
1.545
1.420
1.295



25






1.537
1.413
1.287
25










1.35
5
D-E
1.434
1.310
1.186



25






1.335
1,21
1.085
25



6.2 Sketsa Lokasi

7.      PENGOLAHAN DATA dan ANALISA
7.1 Pengolahan Data
Tabel 7.1.1. Profil Melintang
Elevasi = +100
TP
POSISI ALAT
TARGET
BT RAMBU
JARAK DENGAN PITA UKUR
BEDA TINGGI
TINGGI MUKA TANAH
NAIK (+)
TURUN(-)
1.36
E
1
1.330
E-I=3
0.03

100.301


2
1.370
E-2=6

-0.01
100.291


3
1.633
E-3=7,10

-0.273
100.018


4
2.673
E-4=7,24

-1,313
98.705


5
2.643
E-5=7,87

-1.283
97.422


6
1.589
E-6=8

-0.229
97.193


7
1.557
E-7=9

-0.197
96.996


8
1.414
E-8=1,23

-0.054
96.942


9
2.335
E-9=1,42

-0.975
95.967


10
2.324
E-10=1,63

-0.964
95.003


11
1.499
E-11=2,45

-0.139
94.864
1.40
D
1
1.310
D-1=3
0.09

100.461


2
1.354
D-2=6
0.046

100.507


3
1.555
D-3=7.15

-0.155
100.352


4
2.051
D-4=7.40

-0.651
99.701


5
2.199
D-5=7.70

-0.799
98.902


6
1.803
D-6=7.88

-0.403
98.499


7
1.589
D-7=1.30

-0.189
98.310


8
2.009
D-8=1.40

-0.609
97.701


9
1.975
D-9=1.83

-0.575
97.126


10
1.518
D-10=1.91

-0.118
97.008


11
1.678
D-11=2.41

-0.278
96.730
1.35
C
1
1.226
C-1=3

0.124
100.488


2
1.327
C-2=6

0.023
100.511


3
1.519
C-3=7.27

-0.169
100.342


4
1.922
C-4=7.37

-0.572
99.770


5
1.932
C-5=7.94

-0.582
99.188


6
1.810
C-6=8.08

-0.46
98.728


7
1.654
C-7=8.57

-0.304
98.424


8
1.469
C-8=0.80

-0.119
98.305
1.37
B
1
1.338
B-1=3
0.032

100.722


2
1.388
B-2=6

-0.018
100.704


3
1.735
B-3=7.10

-0.365
100.339


4
2.163
B-4=7.20

-0.793
99.546


5
2.146
B-5=7.60

-0.776
98.770


6
1.757
B-6=7.70

-0.387
98.383


7
1.574
B-7=9.86

-0.204
98.179


8
1.675
B-8=1.28

-0.305
97.874


9
2.218
B-9=1.55

-0.848
97.026


10
2.222
B-10=1.86

-0.852
96.174


11
2.788
B-11=2.06

-1.418
94.756
1.42
A
1
1.378
A-1=3
0.042

100.549


2
1378
A-2=6
0.019

100.568


3
1401
A-3=5.70

-0.008
100.560


4
1412
A-4=7.30

-0.414
100.146


5
1834
A-5=7.70

-0.45
99.696


6
1870
A-6=7.90

-0.231
99.465


7
1651
A-7=9.70

-0.1
99.365


8
1520
A-8=1.26

-0.41
98.955


9
1830
A-9=1.36

-0.74
98.215


10
2160
A-10=1.73

-0.771
97.444


11
2191
A-11=1.89

-0.382
97.062


12
1829
A-12=3.37

-0.409
96.653

Tabel 7.1.2 Profil Memanjang
TP
POSISI ALAT
TARGET
BACAAN RAMBU
JARAK DENGAN PITA UKUR
JARAK OPTIS
BEDA TINGGI
TMT
BELAKANG
MUKA
BA
BT
BB
BA
BT
BB
1.32
1
TI
1.799
1.780
1.710



3,89
3,89
0.507
100.00


A



1.298
1.273
1.249
4,9
4,9













1.32
2
A
1.565
1.440
1.314



25
25,1
0.183
100.507


B



1.384
1.257
1.134
25
25















1.32
3
B
1.320
1.195
1.070



25
25
-0.326
100.690


C



1.645
1.521
1.396
25
24,9















1.35
4
C
1.545
1.420
1.295



25
25
0,007
100.364


D



1.537
1.413
1.287
25
25















1.35
5
D
1.434
1.310
1.186



25
24,8
0,1
100.371


E



1.335
1.21
1.085
25
25

100.271

7.2 Analisa

            Dari pengukuran yang telah kami lakukan di lapangan,data yang kami peroleh meliputi ;

Profil Melintang :
a.       Tempat pesawat di 1
Tp = 1.35 ,
Rumus menghitung :
·         Beda tinggi = Tp – BT(target)
Beda tinggi 1= 1.36-1.330 = 0.03m
Beda tinggi 2= 1.36-1.370 = -0.01m
Beda tinggi 3=1,36-1.633= -0.273m
Beda tinggi 4=1.36-2.673= -1,313m
Beda tinggi 5=1.36-2.643= -1.283m
Beda tinggi 6=1.36-1.589= -0.229m
Beda tinggi 7=1.36-1.557= -0.197m
Beda tinggi 8=1.36-1.414= -0.054m
Beda tinggi 9=1.36-2.335= -0,975m
Beda tinggi 10=1.36-2.324= -0.964m
Beda tinggi 11=1.36-1.499= -0.139m
Catatan : dan seterusnya sampai titik 5/0+00
·         Tinggi muka tanah (elevasi) = elevasi awal + Beda tinggi(target)
Elevasi 1 =100.271 +0.03=100.301
Elevasi 2 =100.301+(-0.01)=100.291
Elevasi 3 =100.291+(-0.273)=100.018
Elevasi 4 =100.018+(-1.313)=98.705
Elevasi 5 =98.705+(-1.283)=97.422
Elevasi 6 =97.422+(-0.229)=97.193
Elevasi 7 =97.193+(-0.197)=96.996
Elevasi 8 =96.996+(-0.054)=96.942
Elevasi 9 =96.942+(-0.975)=95.967
Elevasi 10 =95.967+(-0.964)=95.003
Elevasi 11 =95.003+(-0.139)=94.864
Catatan : dan seterusnya sampai titik 5/0+00


Profil Memanjang.
a.       Rumus menghitung :
·         Jarak optis = (BA-BB) x 100
Jarak optis di TI = (1.799-1.710) x 100 = 3.89 m.
Jarak optis di Amk= (1.298-1.249) x 100 = 4.9 m.
Jarak optis di Ablk = (1.565-1.314) x 100 = 25.1 m.
Jarak optis di Bmk = (1.384-1.134) x 100 = 25.00 m.
Jarak optis di Bblk = (1.320-1.070) x 100 = 25.00 m.
Jarak optis di Cmk = (1.645-1.396) x 100 = 24,9 m.
Jarak optis di Cblk = (1.545-1,295) x 100 = 25.00 m.
Jarak optis di Dmk = (1.537-1.287) x 100 = 25.00 m.
Jarak optis di Dblk = (1.434-1.186) x 100 = 24,8 m.
Jarak optis di Emk = (1.335-1.085) x 100 = 25.00 m.

·         Selisih antara jarak pita ukur-jarak optis = jarak pita ukur-jarak optis
Pada titik di TI = 3.89 -3.89 = 0 m.
Pada titik di Amk = 4,9-4,9 = 0 m
Pada titik di Ablk = 25-25.1 = 0,1 m
Pada titik di Bmk = 25-25 = 0
Pada titik di Bblk = 25-25 = 0 m.
Pada titik di Cmk = 25-24,9 = 0,1 m.
Pada titik di Cblk = 25-25 = 0 m.
Pada titik di  Dmk = 25-25 = 0 m.
Pada titik di  Dblk = 25-24,8=0.2 m
Pada titik di  Emk = 25-25 = 0 m.


·         Beda tinggi = BT blk – BT mk
Beda tinggi 1= 1.780 – 1.273 = 0,507 m
Beda tinggi 2= 1.440 – 1.257 =0,183 m
Beda tinggi 3= 1.195 – 1.521 = - 0.326m
Beda tinggi 4= 1.420 – 1.412 = 0.007m
Beda tinggi 5= 1.310 – 1.21 = 0.1m

·         Tinggi muka tanah (elevasi) = elevasi 1 + BT blk – BT mk
Elevasi 1               = 100.00 m
Elevasi 2               = 100.00+0.183=100.183m
Elevasi 3               = 100.183 + (-0,316)= 99.857 m
Elevasi 4               = 99.857 + 0.007 = 99.864 m
Elevasi 5               = 99.864 + 0,1 = 99.964 m



8.      PENGGAMBARAN dengan SKALA



9.      KESIMPULAN dan SARAN

9.1 KESIMPULAN

  Setelah melakukan pengukuran dilapangan,hal yang dapat kami simpulkan yaitu ;
·         Pada pengukuran memanjang,posisi alat terletak antara dua  buah patok yang akan diukur beda tingginya.
·         Kami melakukan pengukuran profil memanjang sejarak 200 m.
·         Pada pengukuran melintang,posisi alat terletak tepat diatas patoknya.
·         Pada pengukuran melintang titik yang akan diukur itu lebih dari satu,misalnya A-E,dst.
·         Di pengukuran melintang yang kami peroleh hanya benang tengahnya saja karena untuk menentukan beda tingginya.
·         Dari survey yang telah kami lakukan dilapangan,pada pengukuran memanjang TMT yang paling tinggi terdapat pada titik 3 sedangkan yang paling rendah pada titik 2.
·         Dari hasil pengukuran profil melintang,yang dapat kami simpulkan adalah  pada titik center line(CL) itu mempunyai tinggi muka tanah yang lebih tinggi dibandingkan dengan titik-titik lainnya.

9.2 SARAN
·         Penyetelan alat dilakukan secepat mungkin agar pengukuran juga akan berlangsung dengan cepat.
·         Pada pengukuran saat pengukuran melintang jika tepat berada ditengah jalan raya,diusahakan menuggu sampai kondisi jalan agak sepi,
·         Pekerjaan dilapangan harus dilakukan dengan baik oleh anggota kelompok agar pekerjaan yang dilakukan cepat selesai dengan data yang akurat pula.

·         Diusahakan sebelum memindahkan alat,cek terlebih dahulu apakah semua data sudah tercSatat semua, agar tidak terjadi pengulangan pengukuran.

No comments:

Post a Comment